Seniman seni peran terutama seni peran teater ini memang selalu memiliki celoteh-celoteh 'menyindir' namun tak menyinggung perasaan. Seperti yang ia lakukan pada panggung utama Ancol Art Festival 2011 yang bertemakan "Mengubah Ancol bagaikan Yogyakarta!".
Ia berceloteh tentang bagaimana ketidakprihatinan pemerintah pada nasib rakyat terutama 'wong kere' atau orang kecil. Isu-isu hangat yang menjadi buah bibir saat ini seperti pencurian pulsa oleh provider telepon genggam pun ia angkat.
Ia menyindir bagaimana pemerintah seperti menguras uang rakyatnya sendiri dengan lambatnya menindaklanjuti kasus tersebut kepada pelaku bisnis provider telepon genggam. Hal ini telah terjadi lama, namun baru terungkap akhir-akhir ini. Kemudian tentang pemerintah yang mengulur-ulur waktu undang-undang keistimewaan Yogyakarta.
"Ketabahan masyarakat Yogyakarta memperkuat nyali mereka. Maka dari itu karena gonjang-ganjing tentang keistimewaan Jogja, rakyat tetap bersatu. Undang-undang keistimewaan Jogja janganlah menjadi mainan politik pemerintah yang membuat rakyat semakin gemas dengan pemerintah," ujarnya pada audience Ancol Art Festival, Jumat (14/11/2011).
Kemudian ia menambahkan bahwa rekreasi di Ancol bukanlah profit semata, karena telah memberikan kesempatan bagi seniman untuk berkembang dan penikmat karya seni untuk menghargai seni.
Ancol Art Festival merupakan keniscayaan agar melihat pelaku bisnis sebagai komitmen gerakan pertumbuhan kebudayaan. Ia kembali menyindir departemen yang menangani pariwisata dan kebudayaan, mungkin tak terlalu banyak bertindak konkrit dalam membudidayakan pariwisata dan kebudayaannya.