Pasar Seni
Jakarta Contemporary Ceramics Bienalle 1# (bienalle Ceramics Yang Pertama Di Asia Tenggara)
Sabtu, 19 Desember 2009

Untuk pertama kalinya di Asia Tenggara, Galeri North Art Space, Pasar Seni berkesempatan untuk mengadakan Jakarta Contemporary Ceramics Bienalle 1# yang akan memamerkan karya-karya dari 40 perupa keramik internasional dan nasional, antara lain Belanda, Australia, Italia, Amerika Serikat, Singapore, Malaysia, Philipina, dan Indonesia.
Bienalle ini akan dibuka pada hari Sabtu, 19 Desember 2009 sd Minggu, 20 Januari 2010. Dalam biennale ini akan diselenggarakan berbagai macam workshop, presentasi, dan seminar yang membahas tentang perkembangan senirupa keramik kontemporer di Indonesia maupun di dunia. Bienalle ini direncanakan akan diselenggarakan setiap 2 tahun sekali di Galeri North Art Space, Pasar Seni.
Direktur Utama PT. Pembangunan Jaya Ancol Tbk, Budi Karya Sumadi mengatakan bahwa pemilihan tema keramik ini sendiri tidak lepas dari minimnya apresiasi yang diberikan kepada para perupa keramik dibandingkan dengan karya seni lainnya. Di lain pihak keramik sendiri adalah sebuah materi yang sifatnya sangat lekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Dengan diadakannya bienalle ceramic  ini diharapkan akan memacu perkembangan seni rupa keramik yang telah memberikan suatu nilai tambah, nilai seni, dan estetika terhadap materi tanah liat menjadi sebuah karya yang luar biasa maupun apresiasi dan minat masyarakat terhadap seni keramik sebagai salah satu cabang seni yang tertua di dunia.
Rifky Effendy sebagai kurator mengatakan dalam penyelenggaraan biennale keramik pertama di Asia Tenggara ini terdapat beberapa hal yang mendasari. Pertama adalah eskalasi aktifitas pameran seni rupa kontemporer dalam beberapa tahun terakhir ini, memberi ruang bagi karya-karya objek dan patung dengan medium keramik, baik sebagai medium utama maupun sebagai elemen dalam karyanya.  Lalu kedua adalah munculnya pemikiran dan pemahaman baru terhadap dunia seni rupa dan praktisi seni keramik. Forum-forum internasional seni keramik di Asia bermunculan, terutama di Taiwan dan Korea, begitupun interaksi diantara seniman keramik yang semakin intens seiring dengan kemudahan informasi dan komunikasi. Sehingga mereka semakin sadar bagaimana berhadapan dengan medan sosial (kapital) seni rupa saat ini, baik dalam konteks lokal, regional maupun internasional. Ketiga, keberagaman bentuk idiom seni keramik yang luas akan masih terus berkembang dan juga menjadi potensi bagi publik untuk mengapresiasi lebih jauh, bagaimana dunia keramik bermakna pada aspek kehidupan sebuah budaya masyarakat saat ini.

Asmujo selaku kurator pun mengatakan bahwa berbeda dengan negara-negara Asia Timur seperti Jepang, Korea, Taiwan dan China, Indonesia  tidak memiliki tradisi keramik yang canggih, karena itu modal kultural, teknologi dan apresiasi masyarakat terhadap seni keramik rendah. Bukan hal yang mengherankan jika perkembangan seni keramik jauh dari pesat.  Namun hal ini juga menjadi blessing in disguese. Tidak establish  sebagai wilayah khusus, menyebabkan seniman keramik kontemporer di Indonesia tidak berhadapan secara diametrikal dengan seni rupa kontemporer. Karena itu mudah saja bagi seniman keramik di Indonesia menjadi bagian dari seni rupa kontemporer. Hal ini di antaranya disebabkan pula belum establishnya infrastruktur seni rupa kontemporer di Indonesia, sehingga kebutuhan dan kecanggihan untuk melakukan dan membenarkan eksklusi terhadap praktek seni rupa yang tidak sejalan dengan paradigmanya (misalnya: seni keramik) boleh dikatakan tak terjadi.
Beberapa tahun terahir ini cukup banyak seniman keramik yang bisa meleburkan  ke dalam medan seni rupa kontemporer. Agaknya dorongan untuk mencari alternatif dari seni lukis dan media baru, membuka peluang bagi para seniman keramik untuk masuk dalam wilayah produksi dan konsumsi seni rupa kontemporer. Nama-nama seperti F. Widayanto, Titarubi, Nurdian Ichsan, Lie Fhung, Albert Yonathan, Nadya savitri, Noor Sudiyati, Tisa Granicia, Endang Lestari merupakan nama-nama yang juga tercatat dalam medan seni rupa kontemporer Indonesia. Selain nama-nama tersebut beberapa seniman keramik dalam bienal ini memang muncul  dengan semangat studio keramik mandiri, tanpa terlalu peduli pada fenomena seni rupa kontemporer. Nama-nama seperti Evy Yonathan, Ivan, Ika Burhan, dan Ira Suryandari mewarisi semangat ketangguhan seniman keramik mandiri. Dalam beberapa hal sosok mereka mengingatkan semangat “truth to the material” ala contemporary craft. Menariknya, beberapa dari mereka mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan keramik hanya dari kursus keramik. Barangkali justru karena itu, sebagai under-dog, mereka memiliki semangat militan.
JCCB awalnya diniatkan sebagai bienal untuk para seniman keramik Indonesia, namun beruntung tawaran untuk melibatkan beberapa seniman keramik dari negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina disambut dengan baik. Situasi seni keramik kontemporer di negara-negara tersebut tak jauh beda dengan situasi seni keramik kontemporer di Indonesia, kendati dalam perkara perkembangan infrastruktur dan teknik keramik agaknya Indonesia tertinggal. Umibaizurah, Shamsu Mohamad, Ahmad Bakar, Jason Liem adalah para seniman keramik yang juga memiliki kredit dalam seni rupa kontemporer di negaranya masing-masing. Jason Liem, bahkan menjadi seniman yang mewakili Singapura dalam Venice Biennale tahun 2007.  Jason Liem juga dikenal sebagai seniman performance andal di dunia internasional. Selain itu ada terlibat pula beberapa seniman keramik Barat, seperti Marcello Massoni, Michela Foppiani dari Italia dan Hillary Kane dari Amerika yag tergabung dalam studio Gaya Ceramic and Design di Bali. Ada pula Mirjam Veldhuis dari Belanda dan Aeadan Harris dari Australia. Diharapkan kehadiran para seniman luar tersebut dapat memberikan nuansa lain pada bienal keramik ini.   
Perupa lain adalah Ahadiat Joedawinata ,  Hadrian Mendoza (Phillipina) dengan bentuk botol-botol bakaran kayunya, Mohd Roslan Ahmad (Malaysia), Endros Sungkowo, A.A Ivan W.B., Marcello Massoni – Michella Foppani – Hillary Kane dari Gaya Ceramic Centre - Bali, dengan bakaran rakunya. Kelompok karya-karya dengan bentuk objek patung disuguhkan oleh F. Widayanto, Noor Sudiyanti, Endang Lestari, Kang Sri Hartono, Lie Fhung, Ira Suryandari, Evy Yonathan, Ika W Burhan, Mirjam Veldhuis (Belanda), Shamsu Mohamad (Malaysia) , Umi Baizurah (Malaysia) dan Krisaya Luenganantakul (Thailand) yang menyuguhkan gestur penjelajahan dan olahan patung-patung keramik dari ekspresi dunia personal.
Kecenderungan menyusun instalasi disajikan oleh Albert Yonathan dengan konfigurasi bentuk – bentuk figur kontemplatifnya. Begitupun karya instalasi lain, seperti Ponimin, Taufiq Panji Wisesa, Tisa Granicia, Nia Gautama serta Nadya Savitri,Titarubi dan dua pematung non keramik seperti karya Wiyoga Muhardanto dan perupa Handiwirman Saputra. Dengan pembentukan mulai dari cetak dan handbuilding, bahkan menggabungannya berbagai metode dan materi lain. Permukaan tanah lempung yang dimanfaatkan untuk menggambar dengan menoreh disajikan oleh karya –karya Ferry Pharama dan Harry Mahardika. Nurdian Ichsan menyajikan karya instalasi terakota yang interaktif dengan para pengunjung. Sedangkan karya Herra Pahlasari dan Tromarama menyajikan karya-karya video dengan rangkaian objek keramik industri. Mereka masing-masing menyajikan narasi kehidupan dari koridor benda- benda keramik domestik keseharian.
Budi Karya berharap JCCB # 1 ini akan menjadi suatu momentum sebagai perhelatan yang berskala besar dan berkala dua tahunan, bagi para praktisi serta pemerhati seni terutama seni keramik. Bukan hanya di tanah air, tapi juga dalam peta seni rupa di Asia tenggara dan Internasional. Dari karya-karya dalam bienale keramik ini diharapkan publik bisa mengapresiasi  bagaimana keberagaman dan keluasan seni keramik sekarang. Baik dalam lingkup praktik art craft (kriya seni), hingga seni konseptual dan media baru. Diharapkan JCCB ini akan menjadi agenda baru dalam peristiwa budaya di kota Jakarta dan tanah air. Dengan dukungan dari North Art Space dan Jaya Ancol, JCCB juga akan mengukir sejarah baru bagi perkembangan seni rupa Indonesia di tengah percaturan seni rupa dunia.

 

Share on Facebook 
Copyright 2008 - 2012 Taman Impian Jaya Ancol