BERITA

Galeri NAS Pasar Seni Ancol Hadirkan Pameran Fotografi Kontemporer Urbantopia

Sabtu, 24 Oktober 2009

Galeri North Art Space (NAS) Pasar Seni Ancol Taman Impian kembali menjadi ajang pameran  para komunitas kreatif. Lewat pameran fotografi kontemporer  bertajuk Urbantopia yang digelar 24 Oktober – 15 November 2009, Galeri NAS akan menampilkan karya-karya dari para praktisi fotografi yang kreatif dalam menyuguhkan potret kehidupan masyarakat dam budaya urban saat ini. Pameran ini rencananya akan dibuka Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo.
 
Budi Karya Sumadi, Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, -perusahaan pengelola Ancol Taman Impian—mengatakan, pameran fotografi “Urbantopia” menjadi sebuah representasi untuk melihat wajah masyarakat perkotaan di era global saat ini yang mencakup realita, imajinasi, dan bahkan impian-impian atau utopia-nya.
 
“Lewat karya-karya  para praktisi fotografi yang ditampilkan di Urbantopia ini, kita akan disuguhkan bagaimana cara pandang mereka melihat masyarakat dan budaya urban saat ini, dengan pengamatan cermat terhadap fakta sekaligus dengan penuh imajinatif dan juga olahan artistiknya. Melalui pameran ini kami juga berharap bisa memperlihatkan bagaimana praktek fotografi kontemporer di Indonesia, serta menunjukkan keberagaman para fotografer dalam memahami teknologi imaji dan budaya serta konsepsi cara melihat,” kata Budi Karya
 
Sebanyak 12 praktisi fotografi akan memamerkan hasil jepretan kameranya dalam “Urbantopia”  yang diselenggarakan oleh Rifky Effendy dan Julian Sihombing, sekaligus sebagai kurator pameran. Pada pameran ini, pengunjung akan melihat karya-karya foto kontemporer dari fotografer Agan Harahap, Ahmad Deny Salman, Davy Linggar, Hengki Koentjoro, Imelda Mandala, Jay Subijakto, Jim Allen Abel, John Suryaatmadja, Kemal Jufri, Oscar Motuloh, Sutrisno, Wimo Ambala Bayang
 
Beragam foto dengan subyek dan bentuk yang beragam dan bahkan beberapa diantaranya lebih cenderung melampaui berbagai aliran yang konvensional, akan ditampilkan oleh mereka. Selain foto-jurnalistik, foto-foto kontemporer lainnya yang merupakan foto salon, fesyen, periklanan, serta lainnya juga bisa dinikmati para pengunjung, sekaligus menunjukan gambaran bagaimana fotografi kontemporer ingin menembus batas antara yang bukan seni dan yang seni, menghampiri suatu pendekatan terhadap konsepsi – konsepsi yang mutakhir.
 
Kurator Pameran Rifky Effendy menjelaskan, fotografi adalah sebuah kredo tentang munculnya masyarakat modern. Sejak fotografi ditemukan dan kemudian dikembangkan sebagai teknologi baru mereproduksi realitas,  tiap masyarakat di manapun, menjadi mampu melihat cakrawala yang lebih luas lagi terhadap apa yang tengah terjadi disekitarnya maupun diluar lingkungannya
 

Fotografi lanjut dia,  membawa bukti pada pencapaian peradaban manusia dengan menyebarkan berita dengan akurat serta tampak, turut berperan aktif dalam membentuk pengetahuan dunia baru, karena fotografi menjadi dokumen–dokumen visual dengan produksi yang berjumlah besar dan ekstensif, menjadi arketip atau mematerikan ingatan pribadi dan kolektif. Fotografi kini bukan hanya berperan dalam berbagai fungsinya secara sosial tapi juga menyumbangkan tata bahasa baru, yakni tata bahasa visual (visual language), sehingga komunikasi visual yang diciptakannya dalam budaya berdampak pada kehidupan etika dan estetika masyarakat saat ini.
 
“Pameran fotografi kontemporer “Urbantopia” ingin mengetengahkan suatu persoalan bagaimana perkembangan fotografi yang saat ini berperan dalam membentuk budaya masyarakat sebuah bangsa. Urbantopia juga diharapkan bisa memberikan gambaran besar bagaimana wajah masyarakat perkotaan di era global saat ini, mencakup realita, imajinasi, bahkan impian-impian atau utopia-nya,”  tuturnya.
 
Budi Karya menambahkan, penyelenggaraan “Urbantopia” sejalan dengan keberadan Ancol Taman Impian, yaitu menjadi ikon destinasi wisata nasional melalui konsep  Ancol Creative City yang antara lain menampilkan pengembangan performing arts dan edutainment. Hadirnya pameran-pameran dan festival-festival yang mengedepankan unsur seni dan budaya, baik di tingkat regonal, nasional maupun internasional telah memberikan warna tersendiri bagi Ancol,” katanya.
 
Ancol Creative City adalah sebuah konsep pengembangan Ancol Taman Impian sebagai destinasi wisata yang fokus terhadap lima besaran antara lain: edutainment, art & craft, performing arts, culinary,  serta music. Ancol Taman Impian juga berusaha menjadi panggung dan ajang yang nyaman bagi komunitas-komunitas kreatif yang memberi roh kepada Ancol Creative City.
 
“Hadirnya pameran-pameran dan festival-festival yang mengedepankan unsur seni dan budaya, baik di tingkat regional, nasional maupun internasional telah memberikan warna tersendiri bagi Ancol. Penyelenggaraan “Urbanite” di galeri NAS adalah bagian dari itu dan sengaja kami persembahkan untuk memberi jawaban atas kebutuhan ruang publik bagi pelaku kreatif, dalam hal ini bagi praktik seni rupa masa kini atau kontemporer,” tutur Budi Karya. (*)